Sabtu, 13 Juli 2013

Biografi Al-Habib Haidarah Bin Muhsin Al-Hinduan



Menemukan Guru Sejati



 

 MENEMUKAN GURU SEJATI

Ia benar-benar mendapati "ilmu yang luar biasa"
Dari teladan yang di berikan sang guru.
P
ribadinya santai lagi homuris namun, ia juga seorang yang serius , apalagi saat bicara perihal dakwah dan tarbiyah. Pesan-pesan keagamaan,terutama tazki-    yatunnafs (penyucian jiwa), atau biasa di sebut tasawwuf, banyak ia sampaikan saat menemui AlKisah di sela-sela kesibukannya berdakwah dan mendidik santrinya, Bertempat di kediamannya, di Desa Duwet, Situbondo, Jawa Timur, ia tampak fasih bicara seputar thariqah, baik teori maupun aplikasinya, Maklum, ia kini aktif sebagai seorang pembina majelis thariqah.
          Tidak  seperti berdakwah dengan metode tabligh, berdakwah lewat thariqah menuntut adanya ikatan erat antara guru dan setiap muridnya yang harus selalu di kelola secara tepat di setiap saat. Padahal jamaah nya terdiri dari beragam orang dengan latar belakang dan status sosial. Tentu saja, ini membutuhkan ketekunan, ketulusan, keseriusan dan kesabaran ekstra.
          Beruntung, thariqah  yang ia sebarkan adalah Thariqah Alawiyah yang jua sering di sebut thariqah sahlah atau thariqah yang mudah, sehingga cukup lentur dengan berbagai situasi dan kondisi. Kekayaan khazanah thariqah ini juga sangat membantunya dalam membina jamaahnya, yang awam sekalipun.

Alawiyah Naqsyabandiyah
Muhsiniyah
Pada kenyataannya, Thariqah alawiyah, yang bermuara kepada Sayyidina Ali KW, memiliki sanad dengan semua thariqat  Ahlussunah Waljamaah, termasuk naqsyabandiyah , yang bermuara pada Sayyidina Abu bakar RA. Sumber kedua sahabat utama itu tentu saja Rasulullah SAW. Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi , dalam Iqdul Yawaqit, banyak menyebut  kaitan dua thariqah.                            Bahkan Habib Abdurahman bin Mustafa Alaydrus menulis sebu- ah risalah khusus tentang Naqsyabandiyah.
      Atas dasar itulah ia memadukan keduanya. Harapannya masyarakat luas bisa mengakrapi dunia thariqah, segaligus beroleh sanad keilmuan dari kalangan hababaib. Namun, tetap,ia amat ketat dalam, menanam- kan prinsip-prinsip pokok Thariqah Alawiyah yang termuat pada lima asasnya : Ilmu, amal,wara,khauf, dan ikhlas.
      Tuntutan syari'at tentu tak lepas dalam aktivitas thareqatnya. Dalam hal ini ia tak sendirian. Sejumlah alumnus Darul Musthafa Tarim dan beberapa Kiayi serta guru setempat turut bersamanya dalam bimbingan syariat pada ikhwan thariqat.kerja sama itu dengan sendirinya juga memunculkan suasana dakwah yang baik dan terorganisir.
             saat ini majelis thariqah yang ia bina melebarkan sayapnya ke berbagai pelosok. Ada sekitar sepuluh pengurus  tingkat wilayah, mulai dari Kabupaten Situbondo sebagai pusatnya, Surabaya, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah yang meliputi kota Palangkaraya, Sampit , Pangkalambun , dan beberapa kota di Kalimantan Barat, Sedang kepeng- urusan di tingkat Cabang telah mencapai Ratusan.
Kepiawaiannya dalam mengemas thareqat menjadi sesuatu yang menarik dan diminati ini bukan suatuyang aneh. Dalam dirinya mengalir darah dari sang Ayah, Tokoh Mursyid  besar dalam dunia Thareqah  di nusantara, Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan.
Berbagai faktor tersebut membuatnya menamakan majelis thareqah yang ia bina dengan nama "Majelis Thareqah Alawiyah Naqsyabandiyah Muhsiniyah". Maksudnya yang ia sebarkan adalah Alawiyah, yang ia padukan dengan metode dan nilai-nilai yang selaras dalam Naqsyabandiyah , Berdasarkan formula ajaran thariqah yang di warisi Habib Muhsin, Ayahnya.
Haul Al-Faqih Al-Muqaddam
     Disamping lewat thariqah , ia juga mendirikan pesantren yang oleh Gurunya , Habib Umar Bin Hafidz , di beri nama "Adh-Dhiya'ul Musthafawy".Pesantren ini merupakan Pesantren  pertama yang di dirikan murid Habib Umar, yaitu saat Habib Umar melepaskan kelulusan santri angkatan pertama Darul Musthafa pada tahun 1998 .
Pesantrennya ini menggunakan kurikulum dan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan Darul Musthafa Tarim, mulai dari materi pelajaran hingga aktivitas sehari-hari, seperti pada qiyamul lail, khuruj dakwah, hafalan-hafalannya. Ketika baru-baru ini Darul Musthafa Tarim mengubah kurikulum dan sistem pengajaranya, pesantren ini pun berusaha mengikuti induknya tersebut, meski tidak seratus persen.
Berkat kerja sama pengurus pesantren dan para ikhwan thariqah binaannya,pesantren ini memiliki program beasiswa kepada para santri berprestasi untuk melanjutkan studi ke Hadhramaut. Ada sekitar tujuh santrinya yang kini sedang belajar di Tarim, baik di Darul Musthafa ataupun di Rubath Tarim
Beberapa alumnus hasil didikannya telah menyelesaikan studinya di sejumlah perguruan di Timur Tengah,diantaranya  Alwi Al-Habsyi, yang telah mendirikan pesantren di Alalak, Banjarmasin, Ibrahim Assegaf dan ,Musthofa Assegaf yang telah berkiprah dengan majelis ta'limnya di kota Kintap, Kalimantan Selatan, dan Syarif Hamid Al-Qadri, dai muda dan penulis produktif, kini berdomisili di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Selain aktivitas sehari-hari dipesantren, setiap tahun ini juga mengadakan sejumlah kegiatan rutin, terutama dengan memanfaatkan momen-momen keagamaan yang ada. Yang paling menonjol dari kegiatan dakwah tahunan yang ia lakukan adalah penyelenggaraan haul Faqih Al-Muqaddam, setiap bulan Muharram, yang telah ia gelar sejak 2001. Pelaksanaannya bisa memakan waktu hampir satu bulan dan dilaksanakan  di sejumlah lokasi pada beberapa kota. Waktunya ia sesuaikan, agar tak berbenturan dengan kedatangan Habib Umar Bin Hafidz, yang setiap Muharram datang ke Indonesia.
Saat ditanya lebih jauh tentang profil pribadi dan perjalanan hidupnya,Habib Haidarah kerap meng- hindar.Ia tetap lebih suka mem- bicarakan tema-tema dakwah dan tarbiyah. Berbekal sedikit informasi darinya yang kemudian banyak dilengkapi oleh sejumlah orang dekatnya, gambaran sosok Habib Haidarah dapat alKisah hidangkan untuk Anda di sini.   Bersambung...
Berjumpa dengan Habib Ali  Al-Jufri
Habib Haidarah lahir di- Pontianak, dari pasangan Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan dan Syarifah Khadijah Al-Mahdali. Ayahnya Wafat saat ia baru berusia 10 tahun . sejak itu, ia dan adik-adiknya diasuh oleh ibunda- nya,di Situbondo Jawa Timur.
          Pendidikan SD dan SLTP-nya diselesaikan di kota Situ- bondo, lalu ia masuk Pesantren Malang, Asuhan  Ustadz Abdullah Abdun Malang, disana, ia termasuk santri yang menonjol kecerdasannya, sehingga Ustadz Abdullah Abdun pun sangat menyayanginya.
          Usai lulus pesantren, ia melanjutkan studinya Ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Di sana ia menjumpai beragam corak pemikiran dan aliran. Latar belakang keluaraganya, yang akrab dengan dunia thariqah, cenderung banyak berhubungan dengan para tokoh thariqah sufi yang ada di mesir, seperti thariqah Burhaniyah, Dasuqiyah, dan sydziliyah.
          Ia tidak lama tinggal di Negeri Piramid itu. Tak sampai setahun, ia memutuskan belajar di syiria.
Selama belajar di Syria, ia juga menghadiri majelis yang diasuh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthi
Ternyata di Syria pun ia tidak lama, hanya sempat tinggal sekitar tiga bulan. Ia memutuskan kembali lagi ke Mesir.
Sebelum berangkat ke Mesir, ia beristikharah, mengharap petunjuk dari Allah SWT : negeri mana yang tepat untuk menjadi tujuan belajarnya setelah itu.
Di tengah perasaannya yang sedang kalut, hatinya berbisik, “Hadharamaut.” Padahal, saat itu belum ada pelajar asal Indonesia di Hadharamaut seperti sekarang ini. Akibat perang sudara di Yaman, situasi negeri itu pun masih belum kondusif. Namun keinginannya pergi ke Hadharamaut terus menguat. Maka, sebelum kembali ke Mesir, ia telah mengusahakan visa untuk masuk ke Yaman.
Sesampainya di Mesir kembali, ia mendengar, seorng dari Hadhramaut tengah datang ber- dakwah ke Mesir.
Ditemani beberapa temannya, ia menemui orang itu. Ternyata orang yang ditemuinya itu adalah Habib Ali Al-Jufri.
Karena banyak bertanya tentang banyak hal, Habib Ali mengajaknya masuk ke dalam kamar untuk bicar empat mata. Saat ia mengutarakan keininannya belajar di Hadhramaut, Habib Ali tampak sangat senang, hingga ia tawari tiket pesawat ka Yaman untuk berangkat bersama. Ia menolak,karena ia sendiri sebelumnya telah membeli tiket ke Yaman.
Tak lama kemudian, ia pun berangkat ke Hadhramaut, negeri yang saat itu benar-benar asing baginya. Keterangan yang ia dapat dari Habib Ali menjadi petunjuk satu-satunya yang ia miliki ten- tang Hadramaut.
Mengenal sosok Habib Umar
Sesampainya di Aden, Yaman, Habib Ali menjemputnya, lalu mereka melanjutkan perjalanan bersama menuju Tarim. Saat itu, tengah berlangsung ziarah Nabi yullah Hud As. Maka, saat masuk Tarim, ia langsung dibawa menuju Bukit Hud.
Sebelum sampai di Bukit Hud, ia, yang Sebelum sampai di Bukit Hud, ia, yang waktu itu masih bercelana panjang, panjang, sempat diajak Habib Ali berziarah sempat diajak Habib Ali berziarah ke ‘Inat.
Usai ziarah bersama di makam Nabi Hud As, Habib Ali membawanya mendekati Habib umar.
Kepada Habib Ali, Habib Umar bertanya, “Dari mana kau bawa anak ini, ya Ali ?”
Habib Ali menjawab,”Dari Mesir.”
Lalu Habib Umar bertanya kepadanya, “Kau mau belajar kepada kami ?”
“Iya,” jawabnya.
Ahlan wa sahlan bi washiyati rasulillah - Selamat datang, wasiat rasulullah,” habib Umar ­­­­­­­­menyambut.
Sejak itulah ia belajar kepada Habib Umar. Saat itu pelajar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di Tarim, cuma ia dan dua temannya, Habib Ali Zainal abidin Al-Hamid, saat ini kandidat doktor di Malaysia, dan seorang sayyid dari keluarga Al-Habsyi.
Sebuah pengalaman menarik ia dapati di awal kedatangannya di kota Tarim. Dalam perjalanan dari Mesir, ia berjumpa Sayyid Ibrahim Ar-Rifa’i, seorang mursyid Thariqah Rifa’iyah di Mesir, yang juga hendak berziarah ke Tarim. Sepanjang perjalanan, Sayyid Ibrahim tak henti-hentinya bershalawat.
Usai ziarah Nabi Hud,  malam nya dirumah Habib Umar ia tidur di samping Sayyid Ibrahim. Tengah malam Sayyid Ibrahim mendadak terjaga  dan mulutnya terus bershalawat . kejadian itu terjadi berulang kali pada malam itu.
Esoknya , usai sholat subuh berjamaah Sayyid Ibrahim selalu mendahulukan orang lain untuk bersalaman dengan Habib Umar , kecuali Habib Haidarah yang menolak di dahulukan. Mungkin maksud sayyid Ibrahim , dengan bersalaman paling akhir , ia dapat langsung berbincang dengan Habib Umar seusai semuanya bersalaman.
Tinggal Sayyid Ibrahim dan dirinya yang belum bersalaman dengan Habib Umar. Sayyid Ibrahim lalu bersalaman dengan Habib Umar dan bertanya, dimana kedudukanmu di hati Rasulullah?”
Dengan Tersenyum, Habib Umar balik bertanya “apa yang engkau lihat semalam ?”.
“Aku bermimpi Rasulullah memelukmu dan begitu bangga denganmu.” Jawabnya.
Mendengar jawaban itu. Habib Umar tidak menghiraukan dan segera memerintahkan Sayyid Ibrahim melanjutkan bersalaman dengan jamaah yang lain.
Kejadian tersebut amat membekas di hati Habib Haidarah, yang mendengar langsung dialog singkat itu . Ia semakin mengenal sosok gurunya . Ia pun merasa betah tinggal disana dan benar-benar memanfaatkan  waktunya untuk belajar kepada Habib Umar dengan sepenuh hati.
Restu Sang Guru
          Suatu ketika, ia hendak mengunjungi kerabatnya dari keluaraga Al-Hinduan di kota Aden . Ia pun minta izin Habib Umar untuk pergi satu bulan.
          Habib Umar mengizinkan  dan berpesan agar selama di sana ia belajar kepada Habib Abu Bakar Al-Masyhur, sehingga waktu sebulan disana bermanfaat.
          Benar saja. Di Aden, ia rasakan manfaat amat besar selama berguru kepada Habib Abu Bakar , Selain Alim dan istiqomah , pandangan-pandangannya amat  cemerlang dan tak sedikit di antaranya  yang belum pernah terlontar oleh para Ulama sebelumnya.
          Saat kembali ke Tarim, dengan tersenyum Habib Umar menyambutnya sambil membaca potongan ayat ke-65 dari surah Yusuf , “ Hadzihi bidha’atuna ruddat ilaina  ini dia barang milik kami dikembalikan kepada kami.”
          Kata-kata itu amat berkesan di hati nya. Bila ia di ingatkan kepada kejadian itu , sontak matanya berkaca-kaca . Begitu besar perhatian dan kasih sayang Habib Umar kepada murid-muridnya.
          Setalah sembilan bulan di Tarim, tibalah sekelompok pelajar Indonesia yang tercatat sebagai angkatan pertama Darul Musthofa , seperti Habib Jindan dan Habib Munzir. Kedatangan mereka semakin membuatnya betah tinggal disana.
          Di Tarim, ia tinggal sekitar dua tahun. kecendrungan hatinya pada dunia thareqat kaum sufi membuatnya berniat mencari guru Thariqah Naqsyabandiyah yang waktu itu ia dengar ada di India, sebelum kepulangannya ke tanah air.
Keinginannya itu ia utarakan kepada Habib Umar. Namun Habib Umar tak mengizinkannya dan menyuruhnya tinggal lagi di Tarim selama tiga bulan untuk mempelajari Thariqah Alawiyah.
Setelah tiga bulan mendalami Thariqah Alawiyah dari Habib Umar, di hatinya tumbuh rasa kagum yang luar biasa pada manhaj thariqah keluarganya ini. Sejak saat itu, berbekal restu dari sang guru , ia pun bertekad untuk kelak menyebarkan nya di tanah air.
Besarnya perhatian dan kasih sayang sang guru kembali ia rasakan saat hendak berpamitan pulang ke kampung halaman. Habib Umar memberikan kitab kepadanya dan berpesan agar kitab itu tidak dibuka kecuali bila sudah di dalam pesawat. Rasa penasaran menggalayutdi hatinya. Mungkin ada ilmu yang luar biasa yang terkandung dalam kitab tersebut.
Di dalam pesawat , kitab itu segera ia buka . Tiba-tiba, ait matanya pun menetes . Di dalamnya ada uang sebanyak 300 dolar. Ia merasakan perhatian sang guru ,yang masih dalam masa-masa awal membangun Darul Musthofa , sampai sedemikian jauh . Ya, ia benar-benar mendapati “ilmu yang luar biasa”dari teladan sang guru.
Hingga kini , ia terus menjaga jalinan hubungannya dengan Habib Umar , setiap masalah yang ia hadapi pun selalu di utarakan kepada gurunya itu. Sampai sekitar dua bulan silam. Saat berziarah ke Tarim, ia masukan putra sulungnya , Muhamad Amin Quthbi, usia 13 atau 14 tahun.,  di Darul Musthofa . Amin Quthbi tidak di tempatkan di asrama ,tapi di kediaman sang guru.



Sumber Majalah Al-Kisah edisi 12-25 Jumadil Akhir 1432 H 16-29 Mei 2011 M di tulis ulang oleh blog tarannam kelua  Sabtu 27 Sya’ban1434 H 6 Juli 2013 M.




  



Kamis, 11 Juli 2013

Biografi Al-Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan


    Menekuni Syari’at,
Dakwah lewat Tarekat
Kelengkapan penguasaan ilmu syari’at dan tharekat itu Menjadi faktor penting atas terbentuknya Ketokohan dalam dirinya  secara utuh di kemudian Hari.
T
idak banyak di jumpai dalam kalangan Alawiyyin, seeorang sayyid menekuni suatu Tharekat tertentu di luar “Thareqat keluarga” yaitu Thareqah Alawiyah. Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan adalah satu dari yang tidak banyak itu. Kebesaran nama Habib Muhsin di kenal luas karena semasa hidupnya ia menjadi mursyid Thareqat Naqsyabandiah Muzhariyah.
Habib Muhsin lahir pada tahun 1921 di Sumenep, Madura , dari pasangan Habib Ali bin salim Al-Hinduan dan Syarifah Zainab binti Muhsin Al-Baiti.
          Ia menjalani masa kecilnya sebagaimana anak kecil pada umumnya. Tapi ada sisi menarik yang di dapat dari masa kecilnya . Dulu, bila ayahnya menerima tamu , terkadang ia mendengarkan obrolan sang ayah dari balik pintu ruang dalam. Saat ada jawaban atau perkataan Ayahnya kurang tepat , Ia segera mengambil kitab, Kemudian ia mengambil kitab, kemudian di bukanya kitab itu pada halaman yang memuat permasalahan yang di katakan Ayahnya, sebagai “pesan tak langsung “ darinya kepada sang Ayah.
Menembus rahasia Tasawuf
Saat masih kecilnya itu, ia menimba ilmu di madrasah Makarimul Akhlaq di setiap jenjangnya, Setelah lulus, ia mengabdikan diri sebagai salah seorang pengajar di madrasah itu. Bahkan suatu saat di tunjuk sebagai orang yang memimpin kendali madrasah tersebut.
           Jadi, sebelum masuk pada dunia thareqat , pengusaannya di bidang syariat sudah cukup mumpuni . kelengkapan penguasaan dalam ilmi syari’at  dan thareqat itu menjadi faktor penting atas terbetuknya ketokohan dalam dirinya secara utuh di kemudian hari.
          Pada masa revolusi fisik. Habib Muhsin pun terlibat dalam pertempuran langsung dengan pihak Belanda. Di antaranya dalam pertempuran di Gondanglegi , Malang, dan di Sampang, Madura. Saat itu ia masuk dalam barisan Hizbullah . Banyak anak buahnya atau kawan seperjuangannya di medan pertempuran yang kemudian menjadi penghikutnya dalam thareqat.
          Habib Muhsin Belajar Thareqat Naqsyabandiyah dari beberapa guru . Pertama-tama kepada kiai Sirajuddin, kemudian Kiai Fhathul Bari dan akhirnya kepada kiai Syamsuddin . Dua guru yang pertama meninggal dunia sebelum Habib Muhsin menerima ijazah sebagai khalifah, dan gurunya yang ketigalah yang menunjuknya , Habbib Muhsin juga pernah meminta bimbingan ruhani kepada guru Naqsyabandiyah lain yang namanya sangat terkenal di Madura ,kiai Ali Wafa dari Ambuten.
          Ia juga meminta ijazah dari dua khalifah kiai Fhathul Bari , yaitu kiai Zainal Abidin dan kiai Mahfudzh.
          Di sebutkan pula , Habib Muhsin berkhalwat di mana secara ruhaniah ia menembus sedalam mungkin rahasia perjalanan tasawuf  di bawah bimbingan syaikh Thareqat Naqsyabandiyah Khalidiyah  yang sangat di kenal. Haji Jalaluddin Dari Bukit tinggi.
          Setelah di akui sebagai Guru (Mursyid) Habib Muhsin dalam waktu singkat jauh mengungguli para guru Thareqat Naqsyabandiah lainnya.
          Ia menerbitkan ulang Risalah singkat yang di tulis Kiai Abdul Azhim Al-Manduri (yang ternyata merupakan terjemahan bahasa melayu dari sebuah risalah yang di tulis oleh syaikh Muhamad Shalih Az-Zawawi untuk para muridnya yang berada di indonesia) dan juga menulis beberapa buku kecil.
          Sekitar pertengahan tahun 1970-an, Habib Muhsin di anggap sebagai Ulama Kalimantan Barat  yang paling luas pengtahuannya, dan juga paling berpengaruh , tidak hanya di kalangan orang Madura yang tinggal dikalimantan, tetapi juga di kalangan pemeluk Islam lainnya. Hal ini di ungkap oleh Martin van Bruinessen dari pendapat sejarawan Malaysa H. Wan Muhammad Shaghir  Abdullah yang pada tahun-tahun tersebut memimpin sebuah pondok di Mempawah, Kalimantan Barat.
          Pengaruhnya juga terus meluas tidak lagi terbatas pada daerah Madura dan Kalimantan Barat saja.  Tetapi juga pada berbagai komunitas pengikutnya yang mengembangkan diri di tempat lain . di antaranya di Banjarmasin dan Ujung Pandang.
Mencair Kembali
          Habib Muhsin menghabiskan umurnya di jalan dakwah. Sekalipun ia kelahiran Sumenep ,lahan dakwahnya lebih banyak berada di Kalimantan, khususnya di Pontianak, Kalimantan Barat. memang banyak orang Madura yang bermukim di kalimantan, bahkan sudah beberapa generasi.
          Diperkirakan, ada sekitar 180 Masjid dan langgar binaannya, terutama yang terdapat di sepanjang sungai di Pontianak.  Setiap kali ia keluar dari Sumenep berangkat ke Pontianak,biasanya pulang kembali ke rumah di Sumenep dalam tempo empat sampai lima bulan.
Setengah bulan di rumah, beristirahat dan menemui sanak keluarganya, ia kembali lagi ke daerah lainnya, seperti di Banjarmasin, atau terkadang ke ujung padang. Demikianlah kehidupan yang dijalani Habib Muhsin waktu demi waktu.
 Seperti yang diungkap oleh Habib Ali, salah satu putra Habib Muhsin, setelah Habib Muhsin terjun secara total dalam dunia dakwah, belum pernah Habib Muhsin ini ada di rumah di Sumenap selama sebulan penuh, kecuali pada bulan ramadhan saja. Bila Ramadhan datang, ia khususkan bulan itu untuk beribadah dan berkumpul bersama keluarganya di rumah. Tapi bukan berarti ia menutup pintu dari kedatangan murid-muridnya yang selalu ingin mendatanginya untuk, menimba ilmunya. Setiap malam selesai tarawih, biasanya ia membuka mejelis rauhah dengan membaca kitap Ihya’ Ulumiddin, karya Al-Ghazali, dan kitap Al-Hikam, karya Ibn Atha’illah.
Peneliti Belanda Martin Van Bruinessen, dalam bukunya kitab kuning, pesantren, dan tarekat, menyebutkan, popularitas Habib Muhsin menyurut ketika ia mengambil pilihan untuk masuk Golkar pada masa menjelang Pemilu 1977.
Memang, pilihan itu sepenuhnya ia sadari mengandung risiko yang tidak kecil. Tetapi ia mempunyai pertimbangan sendiri dengan memperhatikan banyak hal dari segala sisi. Sebagaimana yang dituturkan Habib Muhammad, putra tertua Habib Muhsin, hal terpenting yang di perhatikan ayahnya adalah gerak langkah dakwahnya yang harus dapat terus berjalan mulus ke pelosok terpencil manapun adanya.
Pengalaman sebelumnya yang ia dapat saat berdakwah ke berbagai pelosok , hampir selalu ia mengalami berbagai hal yang membuatnya merasa ruang gerak dakwah menjadi sangat terbatas.  Dari mulai sekedar interogasi sampai intimidasi ia terima tiap kali ia mendatangi pelosok-pelosok daerah Kalimantan. Maklum saja , memang begitulah kondisi zaman pada saat itu.
          Setelah masuk Golkar, di satu sisi Habib Muhsin mendapat banyka kecaman, tapi disisi lain ia memperoleh keleluasaan gerak dalam dakwahnya. Konon ia mendapat surat izin untuk dapat berdakwah di seluruh pelosok Nusantara. Dan itu berlaku selama seumur hidup. Bahkan tidak jarang kepala daerah di daerah yang ia datangi menyambutnya dengan penuh kehangatan.Ia pun berpikir, mereka ini juga adalah sasaran dakwahnya. walau dengan berbagai resiko yang ia terima dengan pilihannya itu, yang terpenting baginya, gerak langkah dakwahnya tidak lagi terhambat.
Pilihan yang diambil Habib Muhsin memang pilihan yang sangat tidak populer pada masa itu. Kalau ia hidup di zaman sekarang, pilihan untuk aktif di mana pun tidak akan lagi jadi masalah. Pandangannya memang pandangan yang jauh ke depan. Baginya, pilihan dalam dunia politik adalah masalah duniawi yang tidak ada hubungannya dengan kualitas keberagaman dirinya.
Uniknya, sekalipun sudah masuk pada kekuatan politik itu, ia hampir tidak pernah terlibat sama sekali, baik sekedar menghadiri acara-acaranya, apalagi berada dalam kepengurusan atau ditunjuk sebagai semacam penasehat. Bahkan kalau pemilihan umum sedang diselenggarakan, ia mengambil undangan dakwah ke satu daerah yang tergolong paling pelosok, dimana panitia pemilihan umum pada saat itu belum menjangkau daerah itu.
Pilihan Habib Muhsin memang sekadar kiat darinya untuk mensiasati ruang gerak dakwahnya.
Pada awalnya, pilihannya itu jelas mendapat tantangan yang luar biasa besar. Banyak pihak yang mulai menjauhinya, bahkan sebagian dari jama’ahnya sendiri perlahan-lahan mundur teratur darinya. Tapi lama-kelamaan kondisinya pun mencair kembali seperti semula.

Perjalanan Terakhir
Habib Muhsin dikenal memiliki jiwa seorang yang dermawan. Dalam hidupnya tak terhitung banyaknya orang yang diangkatnya sebagai anak asuhnya. Anak-anak asuhnya itu diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan anak kandungnya. Mereka diberi hadiah pakaian dengan pakaian yang sama seperti yang ia berikan kepada anak-anak kandungnya sendiri. Mereka dibiayai hidupnya oleh Habib Muhsin bukan hanya di masa kecilnya, tapi juga sampai menuntaskan pendidikan mereka kejenjang yang tertinggi. Bahkan sampai mereka menikah pun, Habib Muhsin terlibat dalam kepengurusannya dan pembiayaannya.
Sebagai seorang tokoh tarekat, Habib Muhsin juga dikenal sebagai orang yang memiliki rasa tawakkal kepada Allah SWT yang amat mendalam.
Suatu saat, salah seorang putranya pulang dari sekolah lebih pagi dari biasanya. Ketika ditanyakan kepada putranya perihal kepulangannya itu, sang putra menjawab bahwa gurunya di sekolah memulangkannya karena sudah beberapa bulan ia belum membayar uang sekolah.
Sekalipun Habib Muhsin adalah seorang tokoh besar di zamannya, kehidupan keluarganya memang kehidupan yang sederhana. Wajar saja bila sekadar uang bayaran sekolah anaknya pun sempat tak terbayarkan olehnya.
Habib Muhsin tidak gusar sedikit pun. Dengan tenang ia mengatakan, “Ya sudah, tunggu saja disini. Insya Allah sebentar lagi ada.”
Tidak lama setelah Habib Muhsin mengatakan itu, tiba-tiba ada orang yang menyampaikan kabar tentang adanya wesel untuk Habib Muhsin di kantor pos.
Habib Muhsin kemudian mengatakan  “sekarang kamu ambil wesel itu di kantor pos , dan bayarkan ke sekolah untuk uang sekolah kamu itu.”
Sekali waktu, kondisi kesehatan Habib Muhsin sedang terganggu, Tetapi jadwal dakwahnya menuntutnya untuk harus segera berangkat lagi ke Pontianak. Saat itu keluarga banyak yang berharap  dan meminta kepadanya untuk mengurungkan rencana dakwahnya kali itu. Kekhawatiran terlihat di mata mereka saat menyaksikan kondisi kesehatan Habib Muhsin yang tampaknya tidak memungkinkan untuk berangkat pada saat itu.
Namun semangat dakwah Habib Muhsin tak luntur oleh karena kondisi kesehatannya yang tidak prima. Ia tetap berketetapan hati untuk berangkat. Yang ada dalam pikirannya pada saat itu tak lain kecuali rasa kasihan kepada murid-murid yang merindukan dirinya dan mengharapkan kedatangannya segera. Tetapi, ia pun tak ingin mengecewakan harapan keluaraganya.
Maka, demi mendengar permintaan keluarganya itu, Habib Muhsin mengatakan, “baiklah. Saya janji , ini perjalanan saya terakhir.... kalau nanti murid-murid saya kangen kepada saya, biar mereka saja yang kesini.”
Sabtu sore , 3 mei 1980 , tak lama setelah  setelah keberangkatannya ke Pontianak , terdengarlah kabar , Habib Muhsin Wafat.
Pihak keluarga pun segera mengutus Habib Muhamad bin Ali Al-hinduan untuk mengurus pemberangkatan jenazah Habib Muhsin ke Madura.
Menunggu kedatangan Jenazah Habib Muhsin , puluhan ribu warga tampak menyemut di sumenep. Belum pernah terjadi fenomena berkumpulnya orang sedemikian banyak saat wafatnya seseorang melebihi banyaknya orang berkumpul pada saat menunggu kedatangan jenazah Habib Muhsin.
Minggu menjelang Magrib , jenazah sampai di rumah. Sekitar ba,da isya, jenazah Habib Muhsin pun dimakamkan di sebuah pemakaman umum di kota sumenep.
Banyak pihak menawarkan agar Habib Muhsin di makamkan di satu area pemakan khusus. Tapi berdasarkan permintaan Habib Muhsin sendiri,permintaan itu tidak dapat di kabulkan. Habib Muhsin ingin jasadnya di makamkan bersama masyarakat umum lainnya.
Rupanya, ini lah yang di maksud oleh Habib Muhsin sebagai perjalan terakhir inilah pula yang ia maksud bahwa bila murid-muridnya kangen kepada diri nya , biar mereka yang mendatangi nya di Sumenep.
Sumber Majalah Al-Kisah edisi 17 Ramadhan 1430 di tulis blog tarannam cab Kelua pada hari kamis 2 Ramadhan 1434 H. 11 juli 2013